Nafsu yang bermacam-macam diperankan dalam pentas wayang oleh
keluarga besar Kurawa. Nafsu merupakan lapisan terluar dari jiwa
manusia, meneruskan tuntutan kedagingan. Adanya nafsu-nafsu merupakan
pernyataan alamiah dari kenyataan adanya kesadaran akan jasmani dan
merupakan suatu kodrat alam untuk memelihara adanya jasmani, selama
jasmani masih diperlukan sebagai alat-alat pelaksana. Tuntutan
kedagingan itu timbul secara otomatis. Agar supaya pemenuhan terhadap
tuntutan kejasmanian itu terarah, kemaha bijaksanaan hidup yang meliputi
semuanya, merefleksi didalam jiwa. Refleksi ini tercermin secara terus
menerus dan tertangkap oleh laporan jiwa yang terdalam yang di dalam
pernyataannya disadari sebagai cipta, nalar dan pengerti atau secara
keseluruhan disebut angan-angan.
Dengan demikian laporan jiwa itu atau angan-angan itu berkemampuan utnuk
menangkap refleksi dari “Sumbernya”, sehingga angan-angan berkemampuan:
cipta, nalar dan pengerti.
Di dalam meneruskan getaran “Sumbernya” kepada kesadaran alami dan
jasmani, angan-angan yang bersifat non materi-bekerja sama dengan
anasir-anasir alamiah dan jasmaniah yang bersifat meta materi dan materi
sehingga getaran-getaran itu dapat disampaikan dan diterima secara
phisik yang tidak berdimensi.
Hal-hal tersebut digambarkan oleh putra-putra Pandu Dewanata. Pandu
Dewanata yang kita ketahui bahwa mempunyai ciri “tengeng” (tidak dapat
menoleh). Atau hanya memandang lurus. Atau menghadap kesatu arah. Atau
benar. Kebenaran ini menjadi ciri ilmu pengetahuan hanya dapat
dimengerti dipancarkan oleh cipta, nalar, dan pengerti yang disebut
angan-angan.
Pandhu Dewanata bersiterikan dewi Kunthi Nalibrata berputra 3: Yudisthira, Bhima dan harjuna.
Pandhu Dewanata beristrikan dewi Madrim memperoleh 2 putra kembar: Nakula dan Sadewa.
Dengan demikian Pandawa atau Pandhu Putra berjumlah 5 dan disebut Pandhawa Lima.
Dewi Kunthi Nalibrata melukiskan tingkat kesadaran yagn dicapai dengan
jalan bertapa. (Nalibrata= dicapai dengan bertapa). Ialah tingkat
kesadaran jiwa yang terbebas dari pengaruh desakan kedagingan atau
sekurang-kurangnya tingkat kesadaran jiwa yang telah dapat mengendalikan
desakan nafsu kejasmanian.
Dewi Madrim melukiskan tingkat kesadaran yang bekerja sama dengan Materi (Madrim= tanah= bumi).
Dengan demikian angan-angan (cipta, nalar, pengerti) di dalam jiwa
manusia menyatakan diri di dalam 3 tingaktan kesadaran yagn selalu
berorientasi ke dalam sumbernya dan 2 tingkat kesadaran yang
berorientasi dengan anasir jasmani.
Putra-putra Pandhu dengan dewi Kunthi, menyatakan kesadaran “dalam”,
sedang putra-putra Pandhu dengan dewi madrim menyatakan kesadaran
“luar”.
Tingkat kesadaran “dalam” berada atau tersadar di dalam 3 tingkat alam kesadaran.
- Tingkat kesadaran Luhur berada atau bertitik sadar dialam sejati.
Terlepa dari pengaruh-pengaruh jasmani. Bersifat abadi. Ditokohkan oleh
Yudisthira.
- Tingkat kesadaran pikir atau nalar dan pengerti sejati, bertitik sadar di dalam alam Budi, ditokohkan oleh Bhima.
- Tingkat kesadaran cipta bertitik sadar dalam alam cipta ditokohkan
oleh Harjuna. Tingkat kesadaran “luar” disadaari oleh dua bentuk
kesadaran:
- Bentuk Panca Indera jasmaniah berada dalam badan , ditokohkan oleh Nakula.
- Bentuk panca intera halus berada dalam badan jasmani halus, ditokohkan oleh Sadewa.
YUDISTHIRA
Berasal dari: Yudhi berarti ahli perang atau pahlawan perang. Isthira
berarti kemantapan kemauan batiniyah yang emngarah ke dalam. Ke dalam
sumbernya. Sehingga Yudisthira berarti pahlawan perang di dalam
berqiblat kepada Yang Maha Esa. Karena itu tidak ada kesempatan anasir
lain yang bertingkatan rendah dapat mempengaruhinya. Karena selalu ingat
kepadaNya. Oleh karena itu dikatakan bahwa Yudisthira berdarah putih
atau suci.
Disebut juga Dharma Kusuma, berati bunga yang amat bagus. (Dharma=bagus,
terang, adil). Disebut juga Dharma Raja atau Ratu adil. Karena adil
adalah sifat yang terpancar dari ke Maha adilan. Oleh karena itu selain
dekat dan didekati oleh ke Maha adilan maka Dharma Raja akan memancarkan
sinar keadilan itu. Disebut juga Dharma Wangsa, yang berarti bangsa
yang bagus atau sesuatu dan segala sesuatu yang bagus. Disebut juga
Dharma Putra. Berarti selalu mengadakan hubungan ke dalam dengan “asal
hari keadilan” atau “sifat Maha Adil”.
Disebut juga Punta Dewa. (Punta=anak panah). Punta Dewa berarti anak
panah dari dewa. Oleh karena titik sadar selalu berada dalam alam
sejati, dengan demikian selalu ingat kepadaNya, selalu terang, sehingga
tak ada kesempatan dari satu titik gelap dapat menguasainya. Di dalam
titik sadar tepat di mana kemaha kuasaan dan kemaha bijaksanaan
menyinggung kesadarannya. Oleh karena itu memancarlah kebijaksanaan dari
ke Maha bijaksanaan. Keadilan dari ke Maha adilan kekuasaan dari ke
Maha kuasaan. Hal ini dilukiskan dengan perkataan: Punta Dewa atau anak
panah dari Dewa. Anak panah yang langsung terlepas dari Dewa.
Disebut juga Dwijo Kongko berarti Raja dari sekalian pendeta. Atau maha
pendeta atau maha guru. Berarti pendeta yang paling mumpuni.
Yudisthira adalah raja Amarta. Amarta berasal dari Amretha berarti air
kekal, tidak dapat musnah atau abadi.alam yang abadi adalah alam sejati.
Kesadaran hidup yang selalu tepat berada pada titik sadar yang
disinggung oleh Yang Maha Esa, tidak tergantung lagi oleh keterbatasan
yang disebut jasmani, yang bersifat fana. Titik sadar ini telah meraih
kebakaan dan berada dalam alam sejati yang abadi.
Keadaan ini baru disadari oelh kesadaran manusia dengan alat angan-angan
yagn berada di dalam kancah kejarmanian yang disebut otak. Di dalam
wayang disebutkan bahwa sebelum Yusisthira lahir, lahirlah dulu Bhima
dalam keadaan Terbungkus (terdapat dalam kisah “Bima Bungkus”).
Kemudian barulah lahir Yudisthira. Jelas melukiskan bahwa adanya
“Manusia sejati”, yang bersifat abadi barulah disadari adanya setelah
manusia jasmaniah memeahkan bungkusnya yang pertama yangberupa
angan-angan dan mengarahkan kemampuannya yang berupa cipta nalar dan
pangerti yagn bekerja di dalam otak untuk menghayati adanya manusia
sejati (disebutkan lebih jauh di dalam penelasan tentang Bima).
Jadi Yudisthira melukiskan tingkat kesadaran luhur yang titik sadarnya
dalam alam sejati yang menyinggung tepat pada titik kesadaran itu.
Disebutkan bahwa Yudisthira mempunyai senjat berupa Kitab Sakti:
“Kalimasada Pustaka Jamus”. Kalima= lima pada keseluruhannya: usada=
penyembuhan, usaha yang baik menuju kesehatan; Pustaka Jamus= Kitab
Suci). Sehingga keseluruhannya akan berarti: lima jalan yang baik atau
lima jalan rahayu atau lima jalan menuju kebahagiaan.
Dari sudut yagn lain dapat diartikan juga bahwa “kali” adalah sifat
Sakti dari kemaha Kuasaan Tuhan YME. Maha berarti paling. Usada
pergeseran dari hoshada yang berarti buah suci. Sehingga kali Masada
berarti buah suci anugerah dari kemaha kuasaan Tuhan YME. Tuhan YME
telah menganugerahkan kitab-kitab yang mengandung ajaran suci kepada
umat manusia.
Bila kita peras inti sari petunjuk Yang Maha Esa, yang dibawakan oleh
para Nabi yang tersirat di dalam kitab suci tersimpullah lima jalan
menuju kebahagiaan.
1. Menjiwakan makna dari ke Maha Esaan.
2. Bersembahyang
3. Mengendalikan hawa nafsu
4. Budi Dharma
5. Berbudi luhur
apabila lima jalan kebahagiaan ini ditempuh secara keseluruhan dicapailah kebahagiaan yagn bersifat abadi.
Kalimasada Pustaka Jamus selain menjadi milik pribadi dari Juddisthira
juga menjadi tuntunan seluruh keluarga Pandawa, Oleh karenanya Pandawa
berhasil mencapai cita-cita yang diidamkan ilah: Kebahagiaan, kelak di
dalam Perang Agung Barat Yudha ke angkara murkaan yang merajalela dari
Sata Korawa dapat dipunahkan dengan mempergunakan Kalimasada sebagai
senjata pamungkas.
Apabila manusia telah menjiwakan makna dari ke Maha Esaan sehingga
sifat-sifat dari sumber kebaikan itu dekat sekali padanya, bahkan tepat
menyinggung kesadarannya, maka tidak ada jarak lagi yagn dapat ditempati
oleh kebalikan dari sifat maha baik itu, yang memakan dirinya kejelekan
yang bersumber dari kegelapan untuk menghambat terpancarnya kebahagiaan
yang pasti segera dapat diresapi. Kesusahan, penderitaan, kekhawatiran,
ketakutan, ketidak harmonisan kejahatan, tidak mampu lagi tegak
mempertahankan dirinya. Tidak mungkin menyatakan dirinya seperti gelap
yang lenyap ditelah oelh terang yang hadir memenuhi ruang yang gelap
itu.
Untuk mempertahankan kebahagiaan agar tidak bergeser dari kesadarannya,
titik sadar harus diikatkan kepada sumber kebahagiaan itu. Diikat dengan
ketat pada sumber itu. Bersembahyang atau menembah adalah pengikatan
itu. Apabila dengan menembah, benar-benar dapat mengikatkan dengan
kesadaran sadarnya terhadap ke Maha Esaan, maka kebahagiaan selalu
dimilikinya.
Setalah ke Maha Esaan dapat dijiwakan karena selau sadar akan adanya di
dalam panembah, segala perbuatannya akan mencerminkan asmanya. Gejala
yang bersumber dari hal itu adalah Budi Dharma, berbentuk pemberian dari
Budi yang suci. Berupa apapun juga kepada siapapun juga. Materiil
maupun spirituail. Tergantung dari kebutuhan yang akan diberinya dan
menurut kemampuan pemberinya.
Untuk menjaga agar supaya tidak terjadi penyelundupan motif yagn
datangnya dari nafsu yang negatif terhadap hal-hal tersebut di atas,
haruslah nafsu-nafsu itu dikendalikan. Mengendalikan hawa nafsu berarti
mengarahkan dorongan nafsu itu dan mengenalikannya menurut ukuran yang
di Butuhkannya.
apabila hawa nafsu telah tunduk dan menjadi taat seperti kuda yagn telah
dapat dikendalikan. Kemudian kuda-kuda seperti itu dipakai untuk
menarik kereta yang dinaiki oleh seorang Pangeran yang membawakan missi
Budi Dharma langsung dari kehendak yagn Maha Esa. Kelangsungan itu
diikat didalam kesadaran di dalam manembah dan kesadaran akan ke Maha
Esaan itu telah terpateri di dalam jiwa. Maka Sang Pangeran akan selamat
di dalam menjalankan tugasnya dan sampai kepada tujuan. Sang Pangeran
telah mencapai Budi Luhur.
Kelima jalan utama itu atau kalimasada itulah yang menjamin kemenangan Pandawa di dalam perang Agung Barata Yudha.
BHIMA
Bhima adalah putra kedua dari Pandhu yang lahir dalam keadaan
bungkus, tetapi Bhima Bungkus lahir lebih dahulu dari Pandhu. Hal ini
mengkiaskan bahwa hidup yang sejati yang abadi barulah disadari adanya
setelah bungkusnya yang berupa angan-angan mengerahkan segala
kemampuannya untuk membuktikan, menyatakan, mengerti dan menyaari
adanya. Bhima berarti besar. Bungkus dari hidup pada lapis yagn pertama
yang dikenal sebagai jiwa, yagn berkemampuan cipta nalar dan pengerti,
dapat memuat pengertian yang besar bahkan seluruh. Makro Kosmos termuat
didalamnya. Oleh karena itu Bhima digambarkan dengan tubuh yang besar.
Disebut juga Werkudara. Werku berarti anjing hutan. Udara berarti perut.
Werkudara membawakan sifat perut anjing hutan. amat lahap memakan
mangsanya. Oleh karena Werkudara adalah nama lain dari Bhima lambang
dari adanya angan-angan atau pikir, tentulah sifat lahap ini dimaksudkan
lahap di dalam memakan pengertian.
Bahwa Bhima adalah lambang adanya angan-angan yang berkemampuan: Cipta
nalar dan pengerti yang tidak terbatas oleh keterbatasan materi, dapat
dilihat dari sifat-sifat dan kemampuan putra-putra dari Bhima.
Gatotkaca, dapat terbang di angkasa, Antareja, berkemampuan menerobos
bumi, Antasena berjalan di dlam air. Hal tersebut melukiskan bahwa
angan-angan dapat bergerak menerobos bumi, air dan angkasa.
Bhima mempunyai senjata gada yang disebut gada Rujak Polo. Polo berarti
otak, hal ini menjelaskan kepada kita bahwa angan-angan mempergunakan
alat jasmai dan di sebut otak. Atau sebaliknya Bhima melukiskan sesuatu
yang mempergunakan alat jasmani yang disebut otak.
Bhima mempunyai ciri khas tidak berbasa-basi lagi pula tidak pernah
berjongkok. Itulah sifat dari nalar dan pengerti. Lurus, logis, tidak
dapat diperdayakan.
Bhima mengenakan Kampun (sejenis pakaian Poleng Bang Bintula. Kampuh
poleng mempunyai empat macam warna: Merah, kunging, putih, dan hitam.
Warna-warna ini adalah lambang dari nafsu. Nafsu merah dari desakan
kedagingan yang berasal dari anasir api. Nafsu hitam yang berasal dari
anasir tanah. Nafsu kuning yang berasal dari anasir swasana (udara).
Nafsu putih yagn berasal dari anasir air. Empat anasir tersebut
merupakan pembentuk jasmani. Masing-masing anasir membawa sifat asalnya,
selalu menyerta dirinya. Dorongan sifat-sifat asal ini mengalir seperti
air yang mengalir dari gunung, diwaktu banjir dapat mengakibatkan
malapetaka. Itulah sebabnya harus diawasi, diatur, dikendalikan. Cipta,
nalar dan pengerti harus selalu mengikuti gerak geriknya. Menyalurkan
kepada arah yang benar. Dalam hal ini Bhima dapat mengendalikan ke empat
jenis nafsu tersebut, dan mempergunakannya secara benar. Dengan
demikian tepatlah lukisan Bhima itu. Bhima mengenakan kampuh dengan
empat macam warna. Karena Ehima telah menaklukkan, menguasai dan dapat
mengendalikan nafsu-nafsu tersebut.
Di dalam kisah “Dewa Ruci”, diceritakan bagaimana Bhima dapat menghadap
Dewa Ruci atau Sang Guru sejati. Bagaimana Bhima melepaskan diri dari
rintangan-rintangan yang berupa nafsu dan pernyataannya yang melilit
dirinya seprti seekor naga yang besar. Dengan kuku Panca Kenaka ular
yang melilit tubuhnya dapat dikalahkan. Hal itu melukiskan bahwa
angan-angan kadang dibelit oleh bisikan nafsu kedagingan. Belitan ini
dapat dibebaskan dengan lima sifat utama dari jiwa yang merupakan
senjata dari jiwa untuk melindungi dirinya dari bisikan nafsu.
Setelah nafsu itu berhasil dihilangkan muncullah Dewa Ruci, masuklah
Bhima ke dalam telinga Dewa Ruci, atas izinNya. Ternyata di dalam
ruangan yang sesempit itu, dirinya termuat didalamnya dan segalanya
termuat pula tanpa pernah menjadi penuh. Keterbatasan tak mungkin
memenuhi ketidak terbatasan, sebaliknya ketidak terbatasan, selalu
menyelimuti dan menggenangi keterbataan.
Gerakan keluar dari cipta nalar dan pengerti telah di arahkan masuk ke
dalam dan kesadaran itu menguncup menjadi satu titik sadar yagn disebut
Budi. Dengan demikian Bhima melukiskan tingkat kesadaran pikir atau
nalar dan pengerti sejati yang titik sadarnya ada dialam budi.
Bhima dengan kuku Panca kenaka dapat mengalahkan ular Naga yang melilit
tubuhnya. Kuku merupakan pengaman diri (senjat) yang dimiliki olerh
manusia secara kodrati. Timbul bersama-sama kelahiran jasmaninya. Oleh
karena Panca Kenaka milik Bhima, sedang Bhima menggambarkan jiwa manusia
maka Panca Kenaka melambangkan senjat dari jiwa. Ialah kemampuan dari
jiwa yang menimbulkan perasaan positif dan negatif sebagai akibat dari
terlaksana atau tidaknya dorongan kodrati kejasmanian. Dorongan
kedagingan ini menuntut pemenuhan kebutuhannya dan mempengaruhi
alat-alat pelaksana termasuk angan-angan atau jiwa untuk mempergunakan
kemampuannya mewujudkan tuntutan itu. Dengan demikian gerak dari cipta,
nalar dan pengerti tidak tertuju khusus untuk melaksanakan gataran hidup
dari hidupnya yang sejati Sebagian kemampuannya membelok untuk
mewujudkan tuntutan dorongan nafsu-nafsu itu. Seperti lilitan Naga pada
tubuh Bhima pada waktu mencari air suci Perwita Sari.
Apabila manusia dapat mempergunakan Panca Kenaka itu pastilah dia dapat
bebas dari pengaruh negarif dari lilitan nafsu pada tubuh jiwanya.
Apabila kita memperhatikan tali yagn ditarik, timbullah tegangan pada
tali itu. Tegangan itu arahnya berlawanan dengan arah gaya tarikan.
Tegangan timbul sebagai reaksi atas Aksi yang emnimpa padanya yang
berupa tarikan itu.
Apabila nafsu mengadkan tarikan terhadap jiwa untuk mewujudkan
kehendaknya maka secara otomatis timbullah tolakan reaksi terhadapnya.
Reaksi itu merupakan sifat dan sikap jiwa keluar untuk mengimbangi desakan nafsu itu ke dalam.
Nafsu merah, terjadi dari sari halusnya nasir api, semangat, dorongan.
Perwujudannya adalah: marah, tergesa-gesa berkuasa, menghamburkan
tenaga. Apabila nafsu ini melilit jiwa timbulah reaksi dari jiwa untuk
mengimbangi dan menyeringnya. Sifat dari sikap ini disebut: Sabar. Sikap
dan sikap sabar ini dapat dilatih dengan menyadari dan mengawasi
datangnya nafsu merah dan dengan kesadaran itu pula mengadakan tolakan
yang bersifat selektif tahap demi tahap. Beberapa methode dipakai untuk
melatih watak sabar ini diantaranya seperti berikut: setiap kali
tersadar akan datangnya nafsu merah dan segera setelah itu kita hendak
menyetujui dorongan nafsu itu untuk dilaksanakan, secara tegas kita
menahan tindakan itu. Kemudian kita menghitung angka satu sampai dengan
angka sepuluh dengan menarik nafas yang longgar dan panjang selama
hitungan itu terasalah adanya pengendapan tenaga. Dorongan nafsu akan
sirna. Setelah sepuluh hitungan kita dapat bertindak lebih cepat.
Nafsu hitam terjadi dari sari halusnya anasir bumi, bersifat: lekat,
melekat. Perwujudannya adalah: malas, makan minum, Sexuil , congkak,
tamak, tinggi hati. Nafsu ini dapatmelilit jiwa seperti : keinginan
untuk minum minuman keras, kegemaran makan berlebih-lebihan dan enak,
keukaan bermalasmalasan, kesenengan dipuji dan dihormati, kenikmatan
berhubungan sexuil, semuanya dapat mengaktifkan melekatkannya
kebiasaan-kebiasaan seolah-olah sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan.
Sebagai reaksinya timbullah sikap jiwa yang disebut: Rela. Artinya tidak
melekat dan tidak terikat. Watak rela ini dapat diperkembangkan dan
dilatih dengan sadar. Salah satu cara adalah dengan menahan
kesenangan-kesenagan yang biasa dilakukan. Umumnya disebut puasa.
Nafsu yang berwarna putih. Berasal dari sari halusnya anasir air,
bersifat positif, menuju kemeimangan yang sesuai dengan menyadari
kemampunan pribadi, harmonis. Nafsu ini perlu dipelihara karena jalannya
searah dengan getaran asal. Air mencari tempat yagn sesuai dengan
tenaga yagn dikandungnya. Oleh karena itu sifat dan sikap jiwa ini
disebut: Narima, artinya sesuai dengan apa yang dimiliki. Nafsu ini
perlu dijaga jagnan sampai bekerja sama dengan nafsu hitam, sehingga
akibatnya adalah: rasa rendah diri, pemalu dan sebagainya.
Nafsu yang berwarna kuning: Berasal dari sari halus anasir swasana
(udara). Bersifat positif searah dengan getaran asal, oleh karena itu
perlu dikembangkan. Nafsu ini seperti sifat swasana ialah meliputi
semuanya, sehingga semuanya terikat dalam satu perasaan yagn tunggal.
Oleh karena itu perwujudan dari nafsu kuning ini adalah sikap sosial,
kasih sayang, menolong, dapat merasakan kebahagiaan/kesusahan orang
lain. Nafsu kuning ini searah dengan getaran “ke asalan” yang bersifat:
satu, kasih, adil, benar. Nafsu kuning searah dengan hal itu,
melangsungkan getaran itu, dengan demikian sikap jiwa terhadapnya dalah
“jujur”, berarti menyetujui, menjalankan, membukakan tuntutan-tuntutan
itu tanpa manipulasi dan korupsi. Keempat sikap jiwa itu: rela, sabar,
narima dan jujur dapat bekerja sama secara harmonis menimbulkan Budi
Luhur. Kelima watak yang baik dari jiwa yang mengarah keluar inilah yang
mampu membebaskan manusia dari lilitan nafsu yang membelit jiwanya.
HARJUNA
Angan-angan mempunyai kemampuan, cipta, nalar dan pengerti, diragakan
oleh putra-putra Pandhu dari Dewi Kunthi. Apabila cipta, nalar, dan
pengerti terbebas sama sekali dari pengaruh duniawi, tak tergoyahkan di
dalam kesadaran kesejatian, dan bertitik sadar di alam sejati, keadaan
itu dilukiskan oleh Yudisthira. Apabila angan-angan bertumpu pada pkir
atau nalar dan pengerti sejati, maka titik sadar akan didalam budi,
ditokohkan oleh Bhima. Apabila cipta menjadi titik pusat kemampuan
angan-angan dan kesejatian dari cipta ini disadari, maka titik sadar
akan berada pada alam cipta. Hal ini digambarkan oleh Harjuna.
Harjuna berasal dari Herjuna. Her berarti air. Jun adalah nama dari
tempat air. Maka Herjuna mempunyai maksud air yang berada pada
tempatnya. Air didalam bahasa rohani berargi hidup. degnan demikian
Herjuna berarti hidup (dengan huruf H besar) yang ada di dalam tempat
hidup (dengan huruf b kecil) berarti maha ada, (dengan huruf A besar)
yang merefleksi di dalam ada (dengan huruf a kecil), berarti hidup
(dengan huruf h kecil) yang tersinggung oleh Hidup (dengan huruf H
besar). Harjuna merupakan titik pusat atau titik tengah dari hidup. Hal
ini dilukiskan secara tepat di dalam urut-urutan kelima saudara Pandawa.
Harjuna jatuh pada urut ketiga atau panengah dari Pandawa Lima. Oleh
karena itu disebut PAMADE (= yagn ditengah).
Harjuna bergelar juga: Begawan Cipta Ning berati cipta yang jernih.
Cipta yang terpisah dari endapan dan kotoran kebendaan. Di dalam bagian
cerita “Begawan Cipta Ning” setelah mengalahkan raksasa Niwata Kawaca,
harjuna mendapat anugerah seorang bidadari yang cantik bernama Dewi
Supraba. Supraba berarti cahaya yang gemilang. Demikian gemilangnya
sehingga dilukiskan sebagai bidadari. Manusia yang dapat membersihkan
ciptanya dari lapiran-lapisan kotoran duniawi sehingga ciptanya dari
lapisan-lapisan kotoran duniawi sehingga ciptanya langsung memancar ke
luar dari kesejatian cipta, akan memancarkan swasana di sekelilingnya
menjadi terang. Bahkan cahaya yagn terbersit dari cipta yang bersih itu
dapat ditangkap oleh panca indera jasmaniah.
Sinar dari cipta amat baik dan lembut. Mengandung daya kasih yang
memelihara, daya kekuasaan yang melindungi sehingga dapat menggetarkan
setiap hati manusia. Oleh karena itu diceritakan bahwa Harjuna lebih
cakap dari yang cakap. Harjuna dicinta oleh setiap wanita. harjuna
disebut “Lananging Jagad”.
Cipta berkemampuan mengadakan atau melahirkan. Di dalam bentuk mental,
cipta akan melahirkan ide. Di dalam bentuk kejasmanian cipta mengadakan
kelahiran atau keturunan. Oleh karena itu Harjuna disebut juga: Janaka.
jana berarti bibit atau titik hidup. Ka kependekan dari Loka berarti
tempat. Sehingga Janaka berarti tempat titik hidup, tempat tunas hidup.
Cipta yagn benar dan baik melahirkan ide yang benar dan baik, ide yang
benar dan baik inilah yang berhak emmpergunakan alat-alat pelaksana
manusia. Hal ini dilukiskan oleh PARIKESIT. Parikesit adalah turun
pancar dari Harjuna. Parikesitlah yang mewarisi Astina Pura setelah
Pandawa unggul di dalam perang Agung Barata Yudha. Berarti setelah
kegelapan lenyap dari kesadaran terpancarlah cipta sejati. Lahirlah ide
yang baik seperti sumbernya. Ide ini siap untuk diwujudkan dengan
mempergunakan segala peralatan yagn ada di dalam diri manusia. Ide ini
dinobatkan menjadi raja. Di dalam wayangdilukiskan sebagai berikut:
Harjuna mempunyai putra: Ongka Wijaya, Ongkawijaya bherarti cita-cita
yang terpilih. (Ongka berarti cita-cita, Wi berarti lebih, Jaya berarti
unggul). Atau ide yagn baik. Ongka Wijaya berputra Pari Kesit, dan
Parikesitlah yang dinobatkan menjadi raja di Astinapura. Ide yagn baik
dilahirkan menjadi ide yang konkrit dan segala perlengkapan mengabdi
kepaanya untuk mewujudkan dan melaksanakan kehendaknya.
NAKULA dan SADEWA
Kedua ksatria ini adalah putera kembar dari Pandhu Dwwanata dengan
Madrim. Madrim dapat diartikan: tanah (bandingkan dengan Mutter= ibu;
Mother= ibu; Mother land= tanah tumpah darah). Dengan demikian Nakula
dan Sadewa merupakan bentuk kerja sama antara cipta nalar dan pangerti
yang dalam kesatuannya disebut angan-angan dengan unsur-unsur kebendaan.
Bentuk kerja sama itu terdapat didalam Panca Indera. Di dalam kesadaran
kebendaan, panca indera berbentuk materiil: sepasang mata untuk
melihat, sepasang telinga untuk mendengar, sepasang lubang hidung untuk
membau, lidah untuk merasakan, kulit untuk perabaan. Di samping itu di
dalam kesadaran rohaniah. Panca indera berbentuk rohaniah pula:
Kemampuan melihat, kemampuan mendengar, kemampuan membau, kemampuan
merasakan, dan kemampuan perabaan, dengan panca indera batin. Panca
Indera lahi dan batin ini bagaikan saudara kembar. Itulah makna bahwa
Nakula dan Sadewa adalah kembar.
Dengan panca indera jasmaniah, manusia menyadari sesuatu: ada dan
nyata. Ada materiil. Ada dan wujud. Kemampuan ini dinyatakan dengan nama
Nakula, Na berarti ada. Kula berarti titah, mahluk, ciptaan. Sehingga
Nakula berarti adanya mahluk, ciptaan wujudiah, mawujud.
Dengan panca indera rohaniah, manusia menyadari sesuatu; ada di dalam
essensinya, di dalam halnya, di dalam isi hakekatnya. Kemampuan
menyadari adanya sesuatu yang ada dan nyata, maupun yang tidak nyata
tapi ada, tidak memerlukan keterbatasan yang disebut rupa, kemampuan ini
disebut kemampuan dewa. Kemampuan ini dilukiskan dengan kata: Sadewa,
berarti seperti dewa atau setingkat dewa.
Kelima indera itu di dalam pembeberannya diwakili oleh indera mata.
Mata terdiri dari dua bola mata yang berbentuk lensa. Bentuk lensa ini
mirip dengan bentuk biji sawo. Kedua bola mata yang berbentuk biji sawo
terletak pada ketinggian yang sejajar. Tanda ini sinandi di dalam
istilah Sawo Jajar, Nakula dan Sadewa bertempat tinggal di Kesatrian
Sawo Jajar.
Dengan demikian Nakula adalah titik kesadaran bahwa individualitas
itu ada dan nyata, dengan alat indera jasmani. Sedangkan Sadewa adalah
titik kesadaran bahwa individualitas itu ada, di dalam hakekat adanya,
dengan alat indera batin.
Adapun kelima indera itu adalah:
- Pendengar: alatnya adalah telinga, indera ini bersifat selektif.
Getaran yang terlalu lemah dan juga yang terlalu keras tidak dapat
merangsang syaraf pendengar. apabila getaran bunyi merangsang indera
pendengar sentuhan itu diteruskan ke otak. Otak memasknya untuk
dimengerti. Pengertian ini terabsorb atau merembes ke dalam jiwa.
Bersama-sama dengan gelombang metafisik. Gelombang ini hanya dapat
ditangkap oleh indera sejati yang rohaniah disebut indera batin dan
langsung diterima oleh jiwa. Manusia dapat melatih indera batin ini,
sehingga dapat mendengar dalam arti yang sebenarnya tidak terbatas oleh
jarak dan waktu.
- Penglihat: Alatnya adalah mata. Mata mendapat rangsangan dari
gelombang-gelombang warna yang mempunyai panjang gelombang amat kecil.
Mata juga bersifat selektif, hanya warna-warna tertentu dapat dilihat
dengan mata. Di samping gelombang warna yang amat halus itu memancar
pula gelombang metafisik yang non materi: gelombang ini hanya dapat
ditangkap oleh indera penglihat batin atau mata batin, langsung dalam
hakekat pengertiannya terbebas dari jarak dan waktu.
- Peraba: alat penginderaan perabaan adalah kulit. Kulit mempunyai
simpul-simpul syarat yang dapat menerima rangsangan: kasar, halus,
panas, dingin, lunak, keras. Di samping itu dimiliki pula perabaan batin
yang terlebar dari jarak dan waktu.
- Pengecap: alat pengecap adalah lidah. Lidah dapat menerima
rangsangan khusus berupa rasa: manis, asam, asin dan pahit beserta
kombinasinya. Indera pengecap batin terdapat pula mendampingi indera
pengecap ini.
- Pembau: alat pembau adalah hidung. Rongga hidung mempunyai
syarat-syaraf yang peka terhadap rangsang gas-gas dengan struktur kimia
tertentu indera ini didampingi pula dengan indera batin.
Indera jasmani dan indera batin bekerja sama secara harmonis. Di
dalam kesadaran yang bertitik sadar id alam jasmani, Indera jasmani akan
lebih muncul kedepan. Sebaliknya di dalam kesadaran rohani, secara
bertingkat sesuai dengan tingkatan kesadaran rohaninya bertingkat pula
pemakaian indera batin.
Kelima panca indera jasmani terbuka sebagai lima pintu gerbang
penyerapan dari Makro Kosmos ke dalam Mikro Kosmos.
Penyerapan-penyerapan ini di dalam tingkatan kesadaran monodualis yang
memberat kepada jasmani, terkontrol secara pasoif oleh indera batin.
Pada peningkatan taraf kerohanian yang dicapai dengan pengalusan budi
menuju sifat keluhuran, meningkat pula fungsi indera batin ini.
Dengan memperhatikan hubungan dari keluarga Barata kita dapat melihat
anatomi jiwa manusia. Manusia ciptaan Tuhan YME ide yang sempurna
bersifat rohaniah (Abiyasa). manusia mengabdi pada penciptanya, oleh
karena itu hanyalah ada satu kemungkinan baginya ialah membabarkan
karsanya, lambat atau cepat. Untuk membabarkan karsa yang terkandung di
dalam keabadian yang tak meungkin teraih oleh sifat kebendaan di alam
ini, roh manusia diperlengkapi dengan alat-alat yang sesuai dengan
situasi alam yang menjadi tempat tersadarnya pembabaran yang berupa
pencerminan itu. Manusia dilengkapi dengan jiwa dan raga. Jiwa terdiri
dari tiga lapisan.
Lapisan yang terhalus disebut angan-angan (Pandhu Dewanata). Lapisan
yagn terkasar yang merupakan sari halusnya anasir pembentuk badan
disebut nafsu (Dresta Rastra). Interaksi antara nafsu dan angan-angan
menimbulkanperasaan positif, netral, atau negatif, sebagai iklim dari
jiwa (Yama Widura). Angan-angan berkemampuan Cipta, nalar, dan pengerti,
(Harjuna, Bhima, Yudhisthira). Cipta, nalar dan pangerti dapat
menerobos tempat dan waktu (Gatotkaca, Antareja, Antasena). Sedang nafsu
berdiferensiasi menjadi amat banyaknya (Kurawa). Angan-angan dan
keseluruhan dari jiwa mengadakan hubungan dengan kosmos melewati pintu
gerbang panca indera yang kembar (Nakula, Sadewa).
manusia dengan peralatan tersebut dapat memerintah jasmani
(Astinapura), untuk membabarkan atau menobatkan ide sejati pada tkhta,
untuk memegang kekuasaan pemerintahan, Parikesit). Proses ini terjadi di
dalam kesadaran jasmani (Astinapura; Ksetra) dan disebut Perang Barata
Yudha.
PANAKAWAN
Ketidak selarasan di dalam bekerjanya alat-alat dari hidup
mengakibtkan desintegrasi jiwa, sehingga fungsi pencerminan akan
terganggu. Titik sadar akan bergeser dari tempatnya sehingga wujud
bayangan hasil pencerminan tidak sesuai dengan wujud asalnya. Sehingga
terasa adanya ketidak bahagiaan. Begitu juga di dalam wayang Purwa.
Apabila terjadi kesukaran menimpa Pandawa akan gegerlah negara Amarta.
Kesukaran itu berulah dapat diatasi setelah keutuhan Pandawa dicapai
kembali.
Untuk mewujudkan keadilan dinegeri Amarta, Pandawa yang dipimpin oleh
Yudhisthira mempunyai pembantu yang bersifat dewa yang disebut
panakawan: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. SEmar mempunyai wujud
bulat, wujud bukan laki-laki dan bukanperempuan. Mata selalu memandang
ke arah rambut yang merupakan jambil di ubun-ubun. Gareng mempunyai
bentuk badan mengharukan: kaki pincang, tangan cacad. Petruk mempunyai
ciri khas tinggi lurus. Hidung panjang dan mempunyai sebuah pundi-pundi
yang disebut: kanthong bolong. Gareng dan Petruk emmpunyai senjata arit
untuk memangkas rumput dan pethel untuk menebang pohon-pohon. Keempat
Punakawan mengenakan kain dari empat warna Merah, hitam, kuning dan
putih.
Panakawan berarti sahabat. (Pana berarti tahu, Kawan: teman). Teman
sehati yang selalu bersama dan tahu di dalam kegembiraan dan kesusahan.
Pana Kawan disebut juga: Wulu cumbu. Wulu berarti bulu. Cumbu berarti
kerasan, tetap tinggal ditempatnya. Oelh karena itu Wulu cumbu berarti
tetap bersama-sama dengan setia dalam keadaan apapun.
Keempat wulu cumbu ini selalu menyertai Pandawa dan disebutkan bahwa
mereka mempunyai senjata sederhana pemangkas rumput dan pemotong
dahan-dahan kayu. Diceritakan bahwa Gareng mempergunakan senjata Arit
dan Petruk mempergunakan senjata Kapak (Pethel). Oleh karena selalu
emnyertai Pandawa sebagai cerminan dari jiwa manusia, maka wulu cumbu
ini melukiskan kemampuan jiwa yang selalu melekat padanya. Apabila jiwa
manusia digambarkan sebagai sebuah teman, maka Pana Kawan ini adalah
juru taman yang siap membersihkan rerumputan dan perdu yang tumbuh
mengotori taman itu. Oleh karena sumber pengotoran jiwa manusia adalah
tuntutan nafsu yang tak terkontrol maka tepatlah kalau dilukiskan bahwa
panakawan ini memakai kain dengan empat warna. Berarti dengan bantuan
panakawan ini jiwa dapat menguasai nafsu-nafsunya, yaitu nafsu merah,
kuning, putih dan hitam. Nafsu-nafsu itu mendesakkan kebutuhannya kepada
lapisan yang lebih fungsionil untuk dilaksanakan, seolah-olah kebutuhan
nafsu itu menjadi “Kebutuhan ku”. Setiap saat timbul keinginan itu,
pada saat itu pula timbul sikap jiwa yang menyaringnya secara selektif.
Sehingga kebutuhan itu dapat disaring pula. Di sini sikap jiwa itu akan
menghadapi secara frontal gelombang-gelombang nafsu dipanang dari arah:
dalam atau jiwa. Dengan demikian sikap jiwa itu bersifat membantu, oelh
karena itu disebut panakawan, wulu cumbu atau sahabat yang tahu atau
pembantu yang mengerti. apabila sikap ini bersifat menentang atau lawan.
Oleh karena itu dilukiskan sebgai senjuat dan disebut Panca Kanaka *).
(*) Baca: Bhima.
Senjata kapak ataupun arit melukiskan alat sederhana, yang mudah didaptakan untuk merambas pohon-pohon yang mengotori halaman.
Tersebutlah suatu pohon ajaib, yang mengandung misteri yang disebut
pohon Aswata. Pohon ini berakar diangkasa. Pucuk, ranting dan daunnya
ada di dunia. Pohon ini merupakan symbul dari nafsu yang berasal dari
sari halusnya kosmos dan terkumpul di dalam badan; dunia kecil manusia.
Bercabang berdaun dan berbuah di sana. Cabang-cabangnya menutupi jiwa
manusia. Daun-daunnya yang rimbun menghalangi pancaran sinar kesucian.
Buahnya menjadi biji dan tumbuh sebagai benalu di dalam kesucian. Itulah
pohon Aswata atau nafsu. Harus segera dirambas dan dibersihkan, kalau
mungkin ditebang sama sekali. Panakawan yang setia itu telah siap dengan
senjatanya yang sederhana untuk merambas segala macam perdu yang
mengotori taman bunga jiwa. Agar supaya cahaya dari Hidup yang sejati,
sempurna memancar menerangi taman jiwa yagn penuh dengan keindahan abadi
itu.
Petruk bertubuh panjang, berleher panjang melukiskan sifat jiwa yang
elastis, tidak mudah patah. Sifat ini disebut Sabar. Sabar berarti tidak
lekas marah. Marah adalah luapan energie dari kandugnan tenaga nafsu
merah. Sifat sabar berarti sifat laut yang menampung semua aliran sungai
tanpa membuat dirinya penuh. Demikian pula Petruk. Sifat ini dijelaskan
oleh nama Kanthong Bolong. Kanthong Bolong berarti pundi-pundi yang
berubang. Berapa saja dia diisi, tak akan menjadi penuh. Di samping itu
kanthong yang bolong tak akan berisi uang. Berarti tidak memiliki.
Perasaan tidak memiliki sesuatu mengakibatkan lepasnya kelekatan
terhadap apa-apa yang dimiliki, pernah dimiliki atau yagn akan dimiliki.
Sifat bebas dariri kelekatan terhaap sesuatu disebut sifat rela. Sikap
rela ini akan menantang nafsu-nafsu hitam yang berasal dari halusnya
anasir Bumi.
Gareng dilukiskan dengan cacad-cacad tubuh. Kaki pengkor, tangan
bengkok, tubuh kurus ceking. Keadaan jasmaniah tidak mempengaruhi
kebaktiannya terhadap Pandawa. Dia bekerja pada tugasnya dengan keadaan
yang dia miliki dengan kemampuan maximal yang ada padanya. Itulah sifat
yang disebut Narima, yagn berarti sesuai dengan potensi yang
dikandungnya. Garenag berarti garing atau kering. Semua yang harus
diberikan telah diberikan, tidak ada sisa pada tubuhnya. Telah kering.
Inilah sifat jujur yang berarti memancarkan apa yang harus dipancarkan,
memberikan apa yang harus diberikan tanpa manipulasi dan motif
kepentingan pribadi.
Keempat sifat itu sebagai kesatuannya disebut budi luhur. Oleh karena
itu dilukiskan bahwa Gareng dan Petruk mengangkat Semar sebagai
bapaknya. Dengan sikap jiwa yang luhur, manusia akan mengarah ke dalam,
memandang kepada kesucian. Oleh karena itu Semar dilukiskan selalu
emmandang kearah jambul diubun-ubunnya, tempat turunnya sikap ke dalam,
selalu ingat kepada: Penciptanya kepada asalnya. Ini dapat dicapai oelh
karena nafsu telah taat dan perasaan telah dinetralkan, sehingga percaya
dan menghayati arti bahagia.
Bagong dari kependekan: tiba gong. Artinya jatuh pada bunyi gong.
Tarian, yang selalu tepat pada bunyi gong adalah tarian yang bagus.
Tokoh bagong dimaksudkan sebgai persetujuan bahwa telah genaplah jalinan
perumpamaan yang sinandi di dalam bentuk dan fungsi panakawan. Berarti
dengan munculnya Bagong, koreksi bersifat menggaris bawahi dan
menyetujui.
Lebih jauh lagi ditambahkan bahwa dengan tumbangnya pohon Aswata dan
dicapainya budi luhur maka rasa jenis akan pudar, rasa aku akan melebur,
rasa diri akan luluh, rasa diri akan menjadi rasa bersama, kesadaran
akan adanya tepi menjadi rasa ditengah yang berimpit dengan semuanya.
Ketakutan dan kekhawatiran akan hilang menjadi teguh. Keragu-raguan akan
berubah menjadi pasti. Kebencian akan berubah menjadi cinta. Karena dia
telah menginjak pada taraf kesejatian jiwa.
Oleh karena itu Semar dilukiskan bukan laki-laki juga bukan
perempuan. Di dalam kekhusukan sembahyang atau di dalam puncak Semadhi
terkilatlah perasaan ini dimana benteng ke Akuan telah disinarkan
menginjak ambang rasa Sejati. Itulah batas antara gelap dan terang.
Batas antara maya dan nyata, karena Semar masih berfungsi sebgai
Panakawan dari Pandawa. Karena Semar masih berdiri pada ambang. Oleh
karena itu Semar disebut Semar yang berarti samar, batas antara gelap
dan terang. Apabila jenjang itu ditinggalkan dan melangkah pada Rasa
Sejati, Semar akan lenyap menjadi Sang Hyang Ismaya.
Samar disebut juga Badranaya, Badra berarti susah, Naya berarti
mengawasi. Maka Badra Naya berarti yang mengawasi kesusahan. Atau yang
menaklukkan kesusahan. Kesusahan atau penderitaan adalah buah dari pohon
Aswata atau nafsu. Kesusahan hanyalah dapat dikalahkan oleh sikap luhur
dari jiwa, ialah gabungan dari keempat sikap jiwa yang diperankan oleh
putera-putera Semar. Oleh karena itu Badra Naya adalah Semar.
Badra Naya dapat mengalahkan nafsu-nafsu oleh karena itu Badra Naya
bertugas mengawasi nafsu. Oleh karena itu Badra Naya menjadi Panakawan
dari Pandawa.
(http://tradisidanbudaya.wordpress.com/2009/03/28/keluarga-pandwa/)